Dasar Dasar Konflik Dalam organisasi



Modernitas berdampak pada perkembangan ilmu dan pengetahuan serta munculnya peradaban-peradaban baru seperti gaya hidup, pemikiran, dan  sikap. Gaya hidup sekarang dibandingkan zaman dahulu pastinya berberda kalau dulu mungkin belum ada bermacam-macam fashion mungkin dikarenakan minimnya komunikasi antar daerah, zaman sekarang sudah ada internet yang memudahkan manusia berkomunikasi antar daerah bahkan antar negara dan benua, saya tidak memperpanjang penjelasan mengenai gaya hidup, pemikiran dan sikap, namun disisi lain dapat menyebabkan konflik pada sesama yang belum siap menghapi keadaan yang sedimikan rumitnya.
Organisasi harus dapat menyetabilkan dengan keadan dan bahkan harus mengantisipasi perubahan yang akan terjadi dengan mengalisis kekuatan dan kelemahan internal dan memanfaatkan peluang dan mengatisipasi ancaman eksternal yang mungkin dihadapi pada masa sekarang maupun mendatang. Organisasi secara dinamis akan mengalami perubahan dikarenakan dengan berubahnya zaman, upaya ini dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Lewin (dalam Hersey & Blanchard, 1986) berasumsi bahwa dalam setiap situasi perubahan terdapat faktor pendorong dan faktor penghambat yang mempengaruhi. Faktor perdorong adalah faktor yang mempengaruhi situasi dalam arah tertentu serta mempertahankan perubahan agar tetap berjalan dengan baik seperti : perlakuan supervisor, persainga, dan pendapatan intensif. Sedangkan faktor penghambat adalah faktor yang bertindak mengekang atau memperkecil pendorong, antara lain ; sikap apatis, permusuhan, pemeliharaan infrastuktur seperti fasilitas organisasi yang tidak baik. Di jelasakan lagi oleh lewin bahwa, faktor penghambat dapat menurunkan produktivitas karyawan, sedangkan faktor pendorong  dapat meningkatkan produktivitas karyawan dengan begitu otomatis berdampak pada peningkatan produktivitas organisasi.
Kemajuan suatau organisasi di tentukan oleh para pengelolanya,  sebagaimana di ungkapkan oleh saigan (1992) bahwa pemimpin berperan penuh pada sesuatu yang di kuasainya atau berperan sebagai motor penggerak dalam kehidupan organisasi, ia beranggapan bahwa betapapun tingginya tingkat ketrampilan dan bakat keinerja yang dimiliki oleh para pelaksana kegiatan operasional, para bawahan tetap memerlukan bimbingan, pengarahan , dan pengembangan. Selain tenggung jawab untuk melakukan pengem bangan, pemimpin organisasi saat ini menghadapi tantangan untuk mengimbangi pesaing asing, meningkatkan produktivitas, dan mengambil keputusan guna untuk melayani masyarakat. Untuk menghadapi tantangan yang dimaksud, para pemimpin dapat melakukan dengan cara berikut : membangun suatu visi jangka dekat, jangka menengah, dan jangka panjang di organisasinya, mengembangkan kualiatas kepemimpinannya, meningkatkan kualitas produk secara terus menurus, dan melayani pelanggan dengan baik.
Tetapi dalam realitanya,  banyak pemimpin yang tidak bisa menghadapi tantangan, pendapat Ichak Adizes yang di kutip oleh Hersey & Blanchard (1986) menyarankan, agar organisai dapat berjalan efektiv, pemimpin harus melakukan empat peranan sebagai berikut : pemrokdusian, pembaharuan, pelaksanaan, dan kepemaduan. Peran pemroduksian diartikan bahwa, produktivitas individual tidak dapat dicapai tanpa ada usaha dan peran atasan atau pimpinan, pemimpin harus mampu mendayagunakan karyawan dalam arti membimbing dan mengarahkan, mengarahkan dan memberi motivasi sehingga dapat meningkatkan produktivitas pada organisasi. Peran pelaksanaan artinya pemimpin harus mengkordinir dan memnkordinasikan karyawan, mengatur jalannya pekerjaan seperti memberi jadwal, mengendalikan, dan mendisiplinkan. Peran pembaharuan dilakukan pemimpin karena organisasi dalam lingkunan yang terus berubah, pemimpin di tuntut untuk memiliki kemampuan mengubah tujuan dan syistem yang dilakukan sesuai kebutuhan dan perkembangan keadaan. Peran pemaduan dalam organisasi adalah proses strategi personal digabungkan dengan strategi kelompok, tujuan strategi personal di selaraskan dengan strategi kelompok agar resiko personal menjadi strategi kelompok, oleh karena itu tanggung jawab personal menjadi tanggung jawab kelompok begitu juga sebaliknya.
Dengan demikian yang dihadapi oleh para pemimpin kelompok/organisasi adalah menghadapi persaingan, menurunnya produktifitas, ketepatan dalam mengambil keputusan, serta meningkatkan kualitas pelayanan.
Unruk mencapai tujuan organisai, sering kali terjadi perbedaan pendapat atau pandangan yang berbeda antara perorangan atau diantara kelompok didalam organisasi dalam menerjemahkan visi dan misi organisasi sehingga menimbulkan sebuah konfik.
Pandangan lama konflik dalam organisasi dianggap sebagiai sesuatu hal yang negatif, karena dapat menyebabkan perpecahan pada anggota organisasi, oleh karena itu kejadian tersebut harus dihindari agar tujuan organisasi dapat tercapai secara maksimal, maka hal tersebut menjadi sebuah tanggung jawab para pemimpin untuk bisa mengendalikan ketika terjadinya konflik antar anggota dan menghindarkankannya dari konflik. Para ahli menejemen beranggapan bahwa konflik dalam organisasi tidak dapat dihindari dan keadaannnya semakin memperjelas masalah dan mengetahui kelemahan organisasi.
Kemampuan pemimpin dalam menangani konflik dapat berpengaruh pada produktivitas kinerja organisasi. Penyelesaian konflik secara jujur dan adil oleh pemimpin dapat mengurangi pergantian karyawan dan meningkatkan semangat kerja karyawan. Dengan demikian setiap organisasi selalu mengalami perubahan sebagai perkembangan ilmu dan pengetahuan. Setiap organisasi dituntut dapat menghadapi perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Untuk menghadapi masalah-masalah yang akan datang maka di butuhkan pemimpin yang efektif agar dapat mengelola konflik guna untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Related Posts
Previous
« Prev Post